Menggali Hambatan yang Dialami Pasangan Muda Pasca-Stroke dalam Melakukan Latihan Rentang Gerak di Rumah: Studi Kualitatif
DOI:
https://doi.org/10.60126/jim.v4i8.1845Keywords:
Stroke Usia Muda, Pasangan, Rehabilitasi ROM, RumahAbstract
Stroke pada usia muda menimbulkan dampak fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi yang signifikan, tidak hanya bagi penyintas tetapi juga pasangan yang merawatnya di rumah. Rehabilitasi latihan rentang gerak (Range of Motion/ROM) merupakan komponen utama dalam pemulihan fungsi pasca-stroke, namun pelaksanaannya sangat bergantung pada kemampuan, kesiapan, dan dukungan pasangan sebagai caregiver utama. Penelitian dilaksanakan di wilayah Kerja puskesmas Gulai Bancah Bukittinggi. Tujuan penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor penghambat yang dialami pasangan pasien post-stroke usia muda dalam melaksanakan latihan ROM berbasis rumah. Pendekatan kualitatif fenomenologi digunakan untuk memahami secara mendalam pengalaman subjektif pasangan dalam merawat, mendampingi, dan memberikan latihan ROM kepada suami mereka. Sebanyak lima pasangan perempuan berusia 25–45 tahun berpartisipasi, dengan latar belakang pedagang, buruh, pengajar, pegawai swasta, dan ibu rumah tangga. Lama merawat berkisar antara satu hingga enam tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-struktur dan dianalisis menggunakan metode Colaizzi. Lima tema utama ditemukan: (1) Beban fisik dan emosional pasangan dalam mendampingi latihan ROM; (2) Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pasangan mengenai prosedur latihan ROM yang benar; (3) Hambatan lingkungan rumah dan keterbatasan fasilitas pendukung rehabilitasi; (4) Minimnya dukungan tenaga kesehatan terhadap pelaksanaan rehabilitasi rumah; dan (5) Gangguan psikologis serta proses adaptasi peran yang dialami pasangan pasca-stroke. Dalam konteks teori self-care deficit orem, pasangan menghadapi defisit kemampuan perawatan diri dalam melaksanakan supportive-educative nursing system, terutama karena keterbatasan pengetahuan, kelelahan fisik, stres emosional, dan kurangnya dukungan sistem kesehatan. Penelitian ini menegaskan perlunya intervensi program edukasi dan pendampingan yang komprehensif dari tenaga kesehatan untuk mengoptimalkan keberhasilan rehabilitasi berbasis rumah pada penyintas stroke usia muda.







