Stigma Boys Don't Cry: Tekanan Sosial dan Kesehatan Mental Mahasiswa Laki-Laki
DOI:
https://doi.org/10.60126/maras.v4i2.1638Keywords:
Boys Don't Cry, Maskulinitas, Tekanan Sosial, Kesehatan Mental, Mahasiswa Laki-lakiAbstract
Stigma boys don't cry merupakan bagian dari konstruksi maskulinitas yang menempatkan laki-laki sebagai individu yang harus kuat, mandiri, dan tidak menunjukkan kerentanan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk tekanan sosial yang dialami mahasiswa laki-laki, mengkaji respons mereka terhadap stigma boys don't cry, serta menjelaskan dampaknya terhadap kesehatan mental. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nusa Cendana. Informan penelitian berjumlah 8 mahasiswa laki-laki angkatan 2019 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menghadapi tekanan sosial berupa tuntutan kemandirian ekonomi, konflik peran sebagai mahasiswa dan pekerja, serta ekspektasi mengenai kelulusan dan masa depan. Dalam merespons stigma boys don't cry, mahasiswa menunjukkan respons adaptif melalui pencarian dukungan sosial dan respons maladaptif berupa pemendaman emosi. Stigma tersebut berdampak pada meningkatnya tekanan sosial, kesulitan mengekspresikan emosi, stres, gangguan konsentrasi, dan beban psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa norma maskulinitas berperan dalam membentuk pengalaman sosial dan kesehatan mental mahasiswa laki-laki.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







