Falsafah Tepa Selira dalam Memahami ASEAN Way: Perspektif Kearifan Budaya Jawa
DOI:
https://doi.org/10.60126/maras.v4i4.1782Keywords:
ASEAN Way, Tepa Selira, Konstruktivisme, Diplomasi ASEAN, Alexander WendtAbstract
ASEAN Way merupakan karakteristik utama diplomasi ASEAN yang mengedepankan prinsip musyawarah, konsensus, non-intervensi, dan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Selama ini, kajian mengenai ASEAN Way lebih banyak dianalisis melalui perspektif politik, keamanan, dan kelembagaan, sehingga kajian yang menghubungkannya dengan nilai budaya masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian nilai-nilai dalam falsafah tepa selira sebagai kearifan budaya Jawa dengan nilai-nilai normatif ASEAN Way melalui perspektif konstruktivisme Alexander Wendt. Studi mempergunakan desain kualitatif bermodelkan deskriptif serta kajian kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data. Data didapat atas buku, jurnal ilmiah, dokumen resmi ASEAN, serta beragam kajianrelevan. Temuan memperlihatkan falsafah tepa selira memiliki kesesuaian dengan prinsip musyawarah, konsensus, non-intervensi, dan penghormatan terhadap kedaulatan yang menjadi dasar ASEAN Way. Melalui perspektif konstruktivisme, norma-norma tersebut dipahami sebagai hasil konstruksi sosial yang membentuk identitas kolektif ASEAN sebagai kawasan yang mengedepankan dialog, kerja sama, dan penyelesaian sengketa secara damai. Penelitian ini menunjukkan bahwa falsafah tepa selira dapat menjadi perspektif budaya untuk memahami karakteristik diplomasi ASEAN sekaligus memperkaya kajian Hubungan Internasional.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







