Analisis Pengaruh Penutupan Selat Hormuz terhadap Krisis Energi di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.60126/maras.v4i3.1636Keywords:
Selat Hormuz, Krisis Energi, Ketahanan Energi, Harga Minyak, Gangguan Rantai PasokanAbstract
Penutupan atau gangguan operasional Selat Hormuz berpotensi mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan kerentanan negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi dampak gangguan Selat Hormuz terhadap ketahanan energi Indonesia, khususnya pasokan minyak dan bahan bakar minyak (BBM), serta mengidentifikasi implikasinya terhadap perekonomian. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif berbasis data sekunder periode 2019–2025 yang bersumber dari laporan energi, statistik pemerintah, dan publikasi lembaga internasional. Analisis dilakukan melalui pemetaan ketergantungan pasokan, perhitungan potensi defisit, analisis skenario gangguan selama 1, 3, dan 6 bulan, analisis sensitivitas harga, serta estimasi dampak ekonomi. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tingginya ketergantungan terhadap pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah dapat meningkatkan risiko defisit pasokan apabila terjadi gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz. Dalam skenario gangguan berat, defisit pasokan BBM diperkirakan dapat mencapai sekitar 45–55%, sementara kenaikan harga minyak berpotensi berada pada kisaran 200%–300% dibandingkan kondisi dasar. Dampak tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap biaya energi, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik. Temuan ini menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber impor energi, penguatan cadangan strategis, serta peningkatan ketahanan sistem energi Indonesia dalam menghadapi gangguan pada jalur perdagangan energi global.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 MARAS : Jurnal Penelitian Multidisiplin

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.







